Ada cerita dari
seorang temen. Mungkin ceritanya bukan cerita yang patut dicontoh, tapi aq jadi
kefikiran suatu hal dari ceritanya. Bahwa apa yang kita miliki, ada milik orang
lain juga (g berharap kisah ini terjadi sama akuh sih.. (aammmiinnnn). Bahwa kisah
cinta itu terkadang begitu rumit n g terprediksi sama sekali akhirnya. Bahwa
terkadang rahasia allah dan apa yang dikasih allah sama kita itu lah yang
terbaik.
Jadi sang teman
ini sudah kenal lumayan lama walaupun jarang banged ketemu. Kisah cinta dia itu
jadi semacam rahasia umum diantara kita-kita yang masuk dalam perkumpulan
organisasi yang sama. Apalagi semenjak ada pesbuk, kisah hidup sesorang bisa
dipantau. Bahkan mungkin isis hatinya terdalam, kalau dia memenag jujur
mengumbar perasaannya. Ag taunya dia dulu pacaran sam asalah seorang senior
yang cukup popular diantara para senior hehe... tapi setelah lama g jumpa dan g
tau kabarnya, aq baru tau kalau ternyata dia g nikah sama itu senior dan nikah
sama temennya di kotanya di pulau jauh sana. Dan mereka ada masalah dan
akhirnya berpisah.
Waktu itu dia
menjalin hubungan sama seseorang yang sebenernya dia juga dah kenal cukup lama,
bahkan katanya sempat pacaran waktu sama-sama belum nikah. Nah, pas mereka
deket lagi itu posisinya sang laki-laki udah ada pasangan. Nah, jadi lah mereka
deket walau cuma lewat sms, telpon, BBm, chatting dll. Ya walau kadang2
ketemuan juga. Setelah beberapa lama maju mundur dengan perasaan dan amslah
masing-masing, akhir2 ini mereka jadi jauh dan g kontak2an lagi.
Beberapa waktu
lalu dapet kabar kalo sang lelaki meninggal. Entah lah apa yang teman ku ini
rasakan. Maksudnya, dia ada dipihak yang tidak bisa terang2an menangisi
kehilangannya. Entah perasaan itu benar atau salah, toh perasaan dia kepada
cowok itu ada, g bisa dihapus gitu ajah. Galaunya sang teman Cuma bisa
dimunculkan melalui status2 nya yang berusaha kuat. Pernah g sih ngebayangin kae
apa rasanya. Mengenang sesuatu yang orang lain tidak tau bahwa itu berarti
banged buat kita. Terkadang mengenang itu rasanya lebih menyakitkan dibanding saat
mengalaminya. Mungkin sang teman akan terbangun ditengah malam lalu menangis
sendirian. Sendirian menghapus air mata yang merebak saat melewati jalanan yang
pernah mereka lewati bersama. Terdiam sendiri ketika tiba-tiba mendengar lagu
kenangan mereka. Dan itu dilaluinya sendiri. Adakah simpati yang tulus
untuknya? Terlepas benar atau salah apa yang mereka lakukan, dia juga
kehilangan. Disatu sisi semua orang bersimpati kepada sang istri, sedang di
sisi lain mungkin dia merasakan kepedihan yang lebih besar. Padahal
sesungguhnya, milik siapapun kehilangan itu pasti terasa menyakitkan.
Tidak bermaksud
membela, hanya mencoba memahami. Maaf jika pemahaman ini salah. Sampai sekarang
hal-hal seperti ini masih sering menjadi pertanyaan buat ku pribadi. Terkadang menyalahkan,
terkadang kasian. Bagaimanapun perasaan itu sepertinya sulit sekali
dikendalikan. Sebagian orang bilang, itu mah tergantung dari kitanya ajah. Dan sebagian
orang lagi berpendapat, hal-hal seperti itu lah yang membuat hidup lebih ramai
dan berwarna jadi nikmatin ajah (aku g bilang indah lho yaaa.....). Tapi
mungkin tetap saja, semua tergantung kita. Seberapa besar diri mu mau mengikuti
permainan hati mu, seberapa besar diri mu mampu mengendalikan hati mu. Seberapa
diri mu mau menikmati kesenangan mu tanpa memikirkan pihak2 yang tersakiti. Karena
dalam hidup, tidak ada hanya kiri kita sendiri. Usahakan selalu menengok kiri-kanan,
depan-belakang agar kita tau siapa saja yang akan terkena dampak dari perbuatan
kita.

