Hari Konservasi Alam
Nasional: Jambore Konservasi Alam – Cinta Alam Negeriku
Upaya pemerintah
dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas mengenai
konservasi sember daya alam hayati dan ekosistemnya terus dilakukan melalui
berbagai kegiatan, salah satunya Jambore Konservasi Alam Nasional 2014 yang
dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Kegiatan
yang digagas Kementrian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Halimun
Salak ini diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cidahu – Taman Nasional Gunung
Halimun Salak, Kab. Sukabumi – Jawa Barat, tanggal 8 – 10 Agustus 2014.
Dengan tema
besar “Cinta ALam Negeri Ku”, Jambore Konservasi Alam Nasional 2014 diikuti
oleh 210 orang peserta yang terdiri dari Kader Konservasi, Kelompok Pecinta
Alam (KPA), Pramuka Saka Wana Bhakti, Kelompok Profesi (Guru, Mahasiswa,
Wartawan, Artis) yang berasal dari wilayah Jawa Barat dan Banten dan DKI
Jakarta. Dengan tema yang diusung diharapkan peserta mendapatkan tambahan
pengetahuan baru mengenai keindahan ekosistem alam Indonesia dan segala isinya
sehingga dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap alam Indonesia.
Jambore
Konservasi dibuka dengan pengarahan oleh Kepala Subdit Bina Cinta Alam dan
Kepala Balai Taman Nasional Gunung
Halimun Salak dilanjutkan acara perkenalan, ice breaking dan pembagian
kelompok yang dipandu oleh fasilitator dari BBKSDA Jawa Barat. Seluruh peserta
dibagi menjadi 18 kelompok masing-masing 9 anggota dan diberi nama berdasarkan
nama-nama taman nasional yang ada di Indonesia. Acara dilanjutkan dengan
diskusi pada sore harinya dengan bahasan diskusi Mengenal Ekosistem Alam
Indonesi: Potensi dan Tantangan.
Pagi hari kedua
Jambore diawali dengan materi dan dialog dengan Direktur Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Kawasan Konservasi Alam, Bapak Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc
mengenai Aksi dan Kebijakan Konservasi Alam dan dilanjutkan dengan Coaching
Fotografi singkat oleh Bapak Tantio Bangun dari National Geographic Indonesia. Dialog
peserta dengan Direktur PJLKKHL berlangsung seru dan beberapa peserta yang
dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar mendapat souvenir dari
Direktorat PJLKKHL. Coaching fotografi singkat diberikan sebelum melakukan
trecking ke kawah ratu agar peserta dapat mengambil moment-moment selama
melakukan trecking dan juga mengambil dokumentasi mengenai ekosistem dan
keanekaragaman hayati yang ada di kawah
ratu. Pengambilan gambar dan pendokumentasian kegiatan alam bebas tidah ahrus
menggunakan perlatan mahal dan canggih tetapi dapat juga hanya dengan
menggunakan kamera poket biasa atau kamera telpon selular dengan catatan gambar
yang diambil tetap harus memberikan informasi yang baik.
Selama pendakian
ke kawah ratu peserta diberikan tugas “camp services” yaitu membuat papan
interpretasi atau papan informasi di sepanjang jalur menuju kawah ratu dengan
peralatan dan bahan yang telah disediakan oleh panitia. Papan interpretasi yang
dibuat harus dapat menggambarkan atau memberikan informasi mengenai kawasan
sekitar kawah ratu. Pendakian yang
ditempuh selama kurang lebih 5 jam dijalani oleh peserta dengan penuh semangat.
Pada akhir acara pendakian, terpilih 3 kelompok yang berhasil membuat papan
interpretasi terbaik dan mampu memberikan gambaran umum mengenai kekhasan
ekosistem kawah ratu.
Malam terakhir
Jambore Konservasi 2014 diisi dengan malam keakraban berupa renungan malam dan
pesta rimba. Dipandu oleh Ibu Johanna Ernawati dan Mbak Novi peserta membuat
rantai impian mengenai kehidupan mereka di masa depan dan juga membuat surat
kepada alam yang berisi komitmen peserta terhadap kelestarian lingkungan dan
konservasi alam di Indonesia. Dengan
mengirim surat kepada alam diharapkan komitmen yang telah dibuat dapat membekas
di hati para peserta sehingga menjadi ingatan dan pegangan untuk selalu peduli
akan lingkungan dan konservasi alam hayati dan ekosistemnya. Malam pesta rimba
ini juga dimeriahkan dengan pemutaran thailer film dan kehadiran Jovita
Dwijayanti, pemeran utama dalam film Danum Baputi, sebuah film yang bercerita
tentang perjuangan sebuah kelompok masyarakat dayak untuk menjaga mata air yang
menjadi sumber kehidupan mereka.
Pada hari terakhir
kegiatan Jambore Konservasi dan merupakan puncak peringatan Hari Konservasi
Alam Nasional dilakukan Apel Peringatan hari Konservasi Alam Nasional. Dalam
kesempatan ini, hadir tamu undangan
Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
(DAS), Ditjen BPDASPS, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Kepala Balai Besar
TN Gn Gede Pangrango, Kepala Balai DKI Jakarta, Kepala Balai TN Ujung Kulon,
Kepala Balai TN Gunung Halimun Salak, Direktur Kawasan Konservasi dan Bina
Hutan Lindung, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, dan para pejabat Eselon
III Lingkup Ditjen PHKA. Undangan lain yang hadir adalah para mitra, seperti
Yayasan Badak Indonesia (YABI), IJ-REDD Project
(JICA) dan PT. Aneka Tambang. Bertindak sebagai intruktur dalam Apel Peringatan
ini adalah Direktur PJLKKH dan pemimpin Apel Yanri, Staff Taman Nasional Gunung
Halimun Salak. Dalam Apel ini juga dibacakan Deklarasi Cidahu, yang merupakan
komitmen bersama dari para peserta Jambore Konservasi Alam 2014 untuk
memajukian konservasi alam indonesia. Deklarasi ini berisi janji peserta untuk
menjaga melindungi dan melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,
memnafaatkan sumber daya alam secara bijkasana dan bertanggung jawab untuk
menjamin kelestariannya serta menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi
alam di Indonesia.
Selanjutnya,
rangkaian peringatan Hari konservasi Alam Nasional dilanjutkan dengan
pelepas-liaran satwa dan penanaman pohon. Usai upacara, Direktur KKBHL, Hartono
mewakili Direktur Jenderal PHKA, melepas-liarkan satu ekor Elang ular bido (Spilornis cheela). Burung ini
merupakan salah satu jenis penting yang hidup di kawasan TN Gunung Halimun
Salak. Selanjutnya, Direktur PJLKKHL beserta tamu undangan melakukan aksi
penanaman pohon di sekitar area bumi perkemahan.











